I. PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Bahan bakar merupakan aspek yang penting untuk menunjang segala akfitas
kehidupan manusia. Bahan bakar dipergunakan dalam banyak keperluan
seperti keperluan industri,rumah tangga, transportasi, dan sebagainya.
Bahan bakar terbagi dalam berbagai macam yaitu bahan bakar minyak (BBM),
batubara gas alam (LNG), dan lain-lain dan itu semua termasuk sumber
daya alam yang tidak diperbaharui. Selain itu,ada pula bahan bakar yang
dapat diperbaharui seperti biodiesel, biomassa, bioethanol, dan lain
lain.
Bahan bakar yang termasuk minyak dan gas dikelola oleh sebuah perusahaan
negara yang bernama Pertamina. Perusahaan ini berfungsi untuk mengelola
dan menyalurkan ke seluruh pelosok Indonesia. Untuk menyalurkan BBM dan
Minyak Tanah ke seluruh wilayah kerja pemasaran pertamina maka
diperlukan sebuah tempat pengisian BBM ke dalam tangki. Tempat tersebut
dinamakan depot/instalasi pertamina. Depot Pertamina berada dibawah
wilayah kerja pertamina unit pemasaran.
B. Tujuan Penulisan
1. Mengetahui prinsip kerja dari TAS (Terminal Autamation System)
2. Mengetahui bagian-bagian dari TAS
C. Batasan Masalah
Adapun batasan masalah pada laporan ini yaitu Pada Pengisian BBM dan Kerugian head Loss pada Pipa
D. Masalah yang timbul
1. Pompa solar nomor 8 berasap yang kemungkinan penyebabnya dikarena
impeller pompa sudah aus hal ini ditunjukkan dengan berbunyinya impeller
pompa selama pompa berjalan.
2. Pompa Nomor 8 tidak dijalankan karena mengalami trouble pada impeller yang sudah aus
3. Terjadi minyak luber pada filling stasiun 6
4. Sistem Komputerisasi Terminal Automation System mengalami gangguan sehingga dilakukan pencatatan secara manual
5. Besarnya head pompa yang digunakan tidak sesuai dengan head loss yang terjadi pada pipa
6. Kerugian akibat belokan dan accesoris pipa sangat besar
II.PROFIL PERUSAHAAN
A. Sejarah Perusahaan
PT PERTAMINA (PERSERO) UNIT PEMASARAN IV DEPOT BBM MAKASSAR adalah salah
satu depot yang berada dilokasi PT PERTAMINA (PERSERO) unit pengolahan
IV Makassar dengan alamat kantor pemasaran Jl. Garuda 1 Makassar,
Sulawesi Selatan 90125, Telp : (0411) 871181 (5 saluran), 857647-49,
8576451, Fax : (0411) 851841, Telex : 71120, 71141, 71186, dengan alamat
depot instalasi Jl. Hatta 1, Makassar, Sulawesi Selatan 90164, Telp :
(0411) 31921 (4 saluran)
Struktur Organisasi
Gambar 1 Struktur Organisasi Pertamina Depot UPMS IV Makassar
Sumber : Admnistrasi Depot BBM Pertamina UPMS IV Makassar
1. Operasional Head (OH)
OH selaku pimpinan puncak memberikan komitmen sepenuhnya untuk menerapkan dan memelihara system menajemen
Untuk itu OH mengharuskan setiap pekerja untuk :
a. Fokus kepada kepuasan pelanggan dengan memberikan hasil kerja yang terbaik.
b. Melaksanakan tanggung jawab dan wewenangnya secara sungguh-sungguh.
c. Secara penuh terlibat dalam SMM,melaksanakan kebijakan mutu dan berusaha mencapai sasaran mutu.
Pembagian tanggung jawab dan wewenang dilaksanakan sesuai lampiran
struktur organisasi dan uraian kerja untuk masing-masing jabatan.
Untuk memelihara efektifitas system mutu, OH menjabat juga wakil
manajemen (management Representative) dengan tanggung jawab dan wewenang
:
1. Menjamin dengan proses yang dibutuhkan SMM ditetapkan,diterapkan,dan dipelihara.
2. Melaporkan kepada pimpinan kerja dari system menajemen mutu dan kebutuhan untuk peningkatannya.
3. Mendorong adanya kesadaran pentingnya memuaskan pelanggan.
2. PPP
3. Teknik
4. Sekuriti
B. Bidang Kerja Depot Makassar
1. Operasi Penerimaan
a. Penerimaan BBM /BBMK disuplai dari :
1. Kilang Makassar
2. Kilang Plaju (khusus avgas)
b. Fasilitas Penerimaan BBM /BBMK di Depot Makassar terdiri dari :
1. Dermaga nomor 4 di unit pengolahan IV Makassar hanya untuk pembongkaran avgas (ex kilang Plaju).
2. Enam pipa pembongkaran berdiameter 6 untuk pembongkaran:
a. Avtur.
b. Avgas
c. Premium / Pertamax
d. Minyak Tanah
e. Minyak Solar
f. Minyak berat (MFO)
2. Operasi Penimbunan
Fasilitas penimbunan BBM sebanyak 10 buah tangki terdiri dari :
a. 2 buah tangki timbun avtur
b. 1 buah tangki timbun avgas
c. 2 buah tangki timbun premium
d. 2 buah tangki timbun solar
e. 2 buah tangki timbun minyak tanah
f. 1 buah tangki timbun pertamax
3. Operasi Penyaluran
Pengisian BBM ke mobil tangki didukung oleh rumah pompa sebanyak
Sembilan buah pompa elektro serta dua pompa diesel. Selain itu,juga
terdapat dua buah bangsal pengisian yang terdiri dari satu bangsal
filling shed dengan delapan buah meter arus digital serta satu bangsal
filling drum dengan enam buah meter arus digital.
4. Pemeliharaan
Pemeliharaan di Depot Makassar meliputi :
a. Pemeliharaan sarana fasilitas operasi : Pipa dan perlengkapannya,tangki timbun,filter pompa,meter arus, bridger, dan gudang.
b. Pemeliharaan sarana pendukung : kantor, gedung, rumah pompa, saluran listrik, pos penjaga dan areal parker
c. Pemeliharaan sarana LK3, seperti : pemadam api, rambu-rambu, tanaman hias, areal penimbunan BBM/BBMK dan pelumas
d. Penyelesaian Admnistrasi teknik, laporan, dan rencana membuat anggaran tahun berikutnya
e. Teknologi yang digunakan adalah teknologi perminyakan pada umumnya
disesuaikan dengan perkembangan teknologi secara komprensif sesuai
tuntutan kebutuhan.
5. Administrasi
Administrasi di Depot Makassar meliputi Administrasi keuangan dan umum
6. Sekuriti
Sekuriti meliputi penciptaan dan pengendalian situasi aman dilingkungan kerja DepoMakassar
C. Wilayah Pemasaran
Wilayah pemasaran depot pertamina unit pemasaran VI (UPMS) yaitu
meliputi Balikpapan,kutai kertanegara,samarinda dan wilayah Kalimantan
timur dan sekitarnya
D. Skema instalasi pipa
Gambar 2 Skema instalasi pipa pengisian BBM Depot Pertamina UPMS IV Makassar
Sumber : Depot BBM Pertamina UPMS IV Makassar
Gambar 3 skema jalur instalasi pipa pemadam depot pertamina Makassar
Sumber : Depot BBM Pertamina UPMS IV Makassar
E. Kebijakan dan Sasaran Mutu
1. Kebijakan Mutu
Sebagai salah satu lokasi tempat penerimaan,penimbunan,dan penyaluran
produk bahan bakar minyak (BBM/BBMK) dan minyak pelumas yang berkualitas
Pertamina UPMS IV Depot BBM Makassar memandang kepuasan pelanggan
merupakan sesuatu yang penting. Karena sesungguhnya pelanggan merupakan
partner kerja,baik dalam hubungan antara customer dengan perusahaan
hubungan antara perusahaan dengan pekerja,maupun antara pekerja dengan
pekerja. Sedangkan kepuasan pelanggan itu dapat terwujud jika terjadi
hubungan yang saling menguntungkan antara kedua belah pihak dan
terpenuhinya kebutuhan masing-masing pihak.
Dengan lingkup sistem manajemen mutu yang efektif dan efisien dengan
merujuk pada persyaratan internasional ISO 9001:2000. Manajemen
pertamina unit pemasaran IV depot Makassar mempunyai komitmen dengan
menentukan kebijakan mutu sebagai kepuasan anda prioritas kami
Oleh karena itu,manajemen pertamina depot BBM Makassar menerapkan kebijakan manajemen sebagai berikut ;
a. Menerapkan sistem manajemen mutu pertamina secara konsisten dan terpadu
b. Memberdayakan SDM melalui peningkatan profesionalisme kerja sama kelompok.
c. Menyalurkan efisiensi melalui budaya sadar biaya.
d. Menyalurkan BBM/BBMK dan minyak pelumas yang berkualitas.
e. Membangun keunggulan daya saing dengan menciptakan operasi fleksibel
dan menggunakan teknologi digital dalam penimbunan,penyaluran BBM untuk
meraih peluang bisnis yang menguntungkan secara optimal
f. Mengutamakan aspek kesehatan,keselamatan kerja dan lindungan lingkungan.
2. Sasaran Mutu
Berdasarkan kebijakan mutu yang telah ditetapkan dengan merujuk pada
persyaratan ISO 9001:2000, manajemen pertamina unit pemasaran IV depot
BBM Makassar mempunyai komitmen untuk sasaran mutu sebagai berikut :
a. Menciptakan kinerja operasi BBM/BBMK dan minyak pelumas yang
accountable dan auditable melalui pembinaan SDM dan pengelolaan
admnistrasi yang tertib.
b. Meminimalkan rugi kerja,operasi penerimaan maksimal 0,30% dan penyaluran maksimal 0,10%.
c. Mengoperasikan mobil tangki dengan profit minimal 3%
d. Menanggapi keluhan pelanggan maksimum 6 keluhan.
e. Menciptakan kenyamanan pelanggan pada saat menunggu proses admnistrasi di kantor depot BBM Makassar
f. Meminimalkan jam lembur 8 %
g. Melaksanakan kontunitas improvement dan perubahan zero incident.
h. Melaksanakan operasi perusahaan dengan pencapaian zero incident.
F. Kode Tangki Minyak
Depot Pertamina Unit Pemasaran IV Makassar berfungsi sebagai tempat
penimbunan dan penyaluran BBM /BBMK dan minyak pelumas. Untuk memudahkan
pengisian BBM ke dalam tangki maka diberikan kode warna
sesuai dengan jenis bahan bakar minyak. Adapun kode warna tangki minyak di depot pertamina sebagai berikut :
menunjukkan tangki berisi bensin
menunjukkan tangki berisi solar
menujukkan tangki berisi minyak tanah
menujukkan tangki berisi pertamax
menunjukkan tangki erisi avtur
III.TEORI DASAR
A. Sistem Kontrol
Sistem kontrol adalah sekumpulan komponen yang bekerja dibawah
pengarahan kecerdasan mesin. Dalam kebanyakan kasus,rangkaian
elektronika menghasilkan kecerdasan dan komponen elektromangentik
seperti sensor dan motor bertindak sebagai antar-muka dengan dunia
fisik.
Pada masa lalu,yang disebut proses otomatis adalah semua yang
dikontrol,baik dengan rangkaian elektronika dengan analog maupun dengan
rangkaian yang memakai saklar (switch),relai (relay), dan pewaktu timer.
Sejak kemajuan mikrprosesor yang murah semakin banyak piranti dan
sistem dirancang ulang untuk menyertakan pengontrol mikroprosesor
contohnya termasuk mesin foto kopi,mesin minum-minuman,robot dan
pengolahan pabrik industri.
Sistem kontrol dapat dikelompokkan menurut beberapa cara yaitu sistem
regulator,sistem pembuntut,sistem kontrol event. Sistem regulator secara
otomatis menjaga suatu parameter agar bernilai pada (atau sekitar)
harga tertentu contohnya sistem pemanasan rumah untuk menjaga suhu pada
nilai tertentu meskipun terjadi kondisi-kondisi luar yang berubah.
Sistem pembuntut mengupayakan outputnya mengikuti lintasan tertentu yang
telah ditetapkan sebelumnya contohnya robot industri yang memindahkan
bagian-bagian (parts) dari suatu tempat ke tempat lainnya. Sistem
kontrol event mengendalikan serangkaian peristiwa (event) yang berurutan
conthnya mesin cuci yang terus-menerus melaksanakan sederetan
langkah-langkah terprogram.
Sistem control elektrik merupakan karya abad keduapuluh. Relai
elektromagnetik dikembangkan dan dipergunakan untuk mengendalikan motor
dan piranti (device) secara jarak jauh. Relai dan saklar juga
dipergunakan sebagai gerbang-gerbang logika (logic gates) sederhana
untuk mewujudkan semacam kecerdasan. Dengan memakai teknologi tabung
vakum,berbagai perkembangan penting dalam sistem control terjadi
sepanjang perang dunia II.
Pelajaran sistem kontrol berisikan banyak pelajaran yaitu elektronika
(baik analog maupun digital),piranti kontrol daya,sensor,motor,mekanika
dan teori sistem kontrol.
Setiap sistem kontrol memiliki sekurang-kurangnya satu pengontrol
(controller) dan satu akuator (actuator). Input ke pengontrol disebut
rujukan (set point),suatu sistem yang melambangkan output sistem yang
diinginkan. Actuator adalah piranti elektromagnetik yang menerima sinyal
dari pengontrol dan mengubahnya menjadi semacam aksi fisik contoh dari
beberapa akuator umum adalah motor elektrik,katup yang dikendalikan
secara elektrik atau elemen pemanas (heating element).
Gambar 4,Diagram Blok Sistem Kontrol
Sumber : Electronic Book,Pengenalan Sistem Kontrol
Elemen-elemen desain sistem kontrol yaitu :
1. Mendefiniskan obyektif pengontrolan..
2. Menyeleksi pengukuran
3. Menyeleksi variable yang dimanipulasikan
4. Menyeleksi konfigurasi kontrol
5. Mendesain kontroler.
B. Sistem Kontrol Terbuka
Masukan Keluaran
1. Kelebihan sistem loop terbuka
a. konstruksi sederhana dan perawatannya mudah
b. lebih murah
c. tidak ada persoalan berlebihan
d. cocok untuk keluaran yang sulit diukur/tidak ekonomis
2. Kekurangan sistem loop terbuka
a. gangguan dan perubahan kalibrasi
b. untuk menjaga kualitas yang diinginkan perlu kalibrasi ulang waktu ke waktu
C. Sistem Kontrol Tertutup
Sistem kontrol tertutup terbagi tiga yaitu :
1. Sistem kontrol berumpan balik
2. Sistem kontrol interfrensial
3. Sistem kontrol berumpan-maju
Masukan Keluaran
Gambar 5, Diagram Blok Sistem Kontrol Loop Tertutup
Sumber : Electronic Book,Filosofi Dasar Sistem Kontrol
D. Sistem Kontrol Digital
Dalam sistem kontrol digital,pengontrol menggunakan rangkaian digital ,
kerap kali, rangkaian sesungguhnya adalah komputer yang biasanya
berbasis mikroprosesor atau mikrokontroler. Komputer tersebut
melaksanakan program yang berulang berkali-kali (setiap perulangan
iterasi atau scan). Program memerintahkan computer untuk membaca data
rujukan dan sensor,lalu menggunakan bilangan-bilangan untuk menghitung
output pengontrol (yang kemudian dikirim ke akuator). Program tersebut
lalu memutar balik ke permulaan dan memulai lagi. Waktu total untuk satu
kali melintas program mungkin kurang dari 1 milidetik (ms). Sistem
digital hanya “melihat”inputnya pada saat tertentu dalam suatu scan. hal
ini secara mendasar berbeda daripada sistem analog,yang bersifat
kontinu dan menanggapi setiap perubahan secara segera. Meskipun
demikian,pada kebanyakan sistem kontrol digital,waktu scan sedemikian
singkat dibandingkan waktu tanggapan proses yang dikontrol
sehingga,untuk semua tujuan praktis,tanggapan pengontrol terasa
seketika.
E. Komponen TAS
1. Automatic Tank Gauge (ATG)
Automatic tank gauge dapat memberikan hasil pengukuran secara otomatis,paling tidak yang berikut ini :
a. Ketinggian BBM secara terus menerus
b. Temperatur BBM secara terus menerus
c. Ketinggian air pada saat diminta
d. Density BBM pada saat diminta
Adapun spesifikasi umum yang diperlukan sebagai berikut :
1) Ketelitian tinggi BBM :±0.5 mm
2) Ketelitian tinggi air (interface) : 2mm
3) Ketelitian pengukuran density : 0.005g/cc
4) Repeability : 0,1 mm
5) Range Pengukuran :disesuaikan dengan tinggi tangki timbun
6) Input/Output : Serial,RS485
7) Protokol komunikasi :dokumentasi dari vendor harus lengkap
Ada berbagai macam tipe ATG, yang paling popular adalah tipe servo
balance dan radar. Yang dapat memberikan pengukuran semua yang
disebutkan di atas sekaligus,tanpa bantuan sistem lain,adalah tipe servo
balance. Tipe radar,sekalipun beberapa model dapat memberikan
ketelitian yang lebih,hanya dapat mengukur ketinggian BBM. Pengukuran
interface,density, dan temperature memerlukan alat lain.
1.1 Servo Balanace ATG
Prinsip dari servo ini adalah timbangan yang presisi. Timbangan (sensor
torsi) digunakan sebagai input bagi sebuah controller yang diset untuk
mencari berat tertentu. Bila level BBM turun,bandul ATG menjadi lebih
berat dari sebelumnya,sehingga controller akan memerintahkan gulungan
tali bandul untuk mengulur (menurunkan) bandul sampai diperoleh berat
sama dengan sebelumnya (set point). Panjang tali yang diulur menyatakab
perubahan level. Sebaliknya bila level BBM naik,bandul menjadi lebih
ringan, controller memerintahkan gulungan untuk mengangkat bandul sampai
diperoleh berat semula. Pengukuran density menggunakan hokum
Archimedes. Berat bandul di udara diketahui. Berat bandul yang
ditenggelamkan penuh dalam BBM diukur.
Gambar 5,prinsip kerja servo balance ATG
Sumber :pedoman desain TAS ITB,2007
Diperoleh selisih berat. Volume bandul juga diketahui. Density BBM
dihitung dengan membagi selisih berat dengan volume bandul. Gambar
memperlihatkan sistem analog,yang sekarang tidak digunakan lagi. ATG
modern menggunakan rangkaian digital. Sistem digital (microcontroller)
memungkin ATG beroperasi dengan baik sesuai dengan perintah dan
melakukan perhitungan dengan teliti. ATG tipe servo memiliki komponen
yang halus,bergerak,dan terbasahi oleh BBM. Oleh karena itu tipe ini
hanya baik bagi BBM yang bersih (P,K,dan S). Bila ATG ini digunakan
untuk pengukuran MFO,pemeliharaan harus dijadwalkan lebih sering. Bila
untuk PKS cukup diperiksa tiga bulan sekali,untuk MFO memerlukan
pemeriksaan dan pembersihan setiap bulan.
Gambar 6, servo balance ATG
Sumber :pedoman desain TAS ITB,2007
1.2 Radar ATG
Seperti namanya ,radar (radio detection and ranging), ATG ini
menggunakan prinsip pengukuran jarak dengan gelombang radio. Tipe ini
tidak memiliki bagian yang bergerak dan tidak terbasahi oleh BBM,
sehingga pemeliharaan menjadi lebih mudah dengan jadwal yang lebih
jarang. Tipe ini baik untuk mengukur level minyak yang kotor atau
berat,seperti MFO. Saying density BBM dan interface BBM dengan air tidak
dapat diukur oleh tipe ini
2. Motor Operated Valve (MOV)
Mov adalah valve yang digerakkan oleh motor listrik,sehingga dapat
dioperasikan dari jauh. Mov memungkinkan penganturan dari ruang kontrol.
Hampir semua tipe valve dipasangi penggerak listrik (electric akuator).
Tipe valve yang biasa digunakan di depot adalah :
a. Gate Valve,actuator action,multi turn (banyak putaran)
b. Ball Valve,actuator action : quarter turn (setengah putaran)
c. Plug Double Block & Bleed Valve,actuator action : quarter turn (seperempat putaran)
Electric actuator dapat menggunakan motor arus searah (DC) atau motor
arus bolak-balik (AC). Untuk valve berukuran besar (>4”) biasanya
digunakan motor AC tiga fasa
Spesifikasi umum MOV :
1. Sumber daya : 220 VAC atau 380 VAC 3 fasa
2. Memiliki torsi yang sesuai untuk valve yang dipilih
3. Waktu buka-tutup katup : maksimum 90 detik
4. Kelengkapan :
a. Tombol untuk operasi local
b. I/O untuk remote operation
c. Saluran komunikasi untuk pengendalian melalui komputer (RS485 dengan informasi protokol dari vendor harus lengkap)
3. Metering System
a. Meter
Meter di sini adalah perangkat yang mengukur volume yang disalurkan.
Tipe meter yang digunakan dalam operasi depot tertentu adalah sebagai
berikut :
1) Penyaluran darat (truk tangki) :
a). Vane PD (positive Displacement) meter untuk PKSA
b). Gear atau Rotating Paddle PD meter untuk MFO
2) Penyaluran Laut : turbin meter
3) Penerimaan laut : turbin meter
4) Penyaluran pipa : turbin meter
5) Penerimaan pipa : tubin meter
Gambar 7 Vane PD Meter
Gambar 8 Gear Meter
Gambar 9 Turbin Meter
Sumber : Pedoman Desain TAS-ITB
Spesifikasi umum meter untuk depot :
a. Ketelitian : 0,2 %
b. Repeatability : 0.1%
c. Output : pulsa
d. Kapasitas :
1) Truk tangki top loading :1000 liter per menit
2) Truk tangki bottom loading : 2000 liter per menit
3) Penerimaan dan penyaluran laut : 600 m / jam
4) Penerimaan dan penyaluran pipa : disesuaikan dengan kapasitas pompa.
b. Kontrol Bak
Bacth controller atau loading controller sangat menentukan kualitas
penyaluran BBM. Batch controller harus memiliki spesifikasi minimum
sebagai berikut :
1) Pengatur laju aliran
2) Pengatur profil laju aliran
Gambar 10,grafik hubungan Flow rate dengan preset volume
Sumber :Pedoman desain TAS ITB 2007
3) Penunda (time delay) bukaan valve
4) Penunda (delay time) mematikan pompa
5) Alarm dan shut down bila terjadi :
a) Low Flow
b) High Flow
c) Kehilangan Ground
6) Meter factor : empat titik (25%,50%,75%,100%)
7) Input : pulsa dari meter
8) Output ke kontrol valve :PWM (Pulse Width Modulation ) buka dan tutup
9) Display :
a) Preset
b) Laju Aliran
c) Volume Pengisian
d) Non Resetable Totalizer
10) Tombol :
a) Start
b) Stop
c) Numerik
11) Komunikasi : RS485 ,informasi protokol harus lengkap dari vendor
c. Flow Control Valve
Flow control valve untuk penyaluran dipilih dari tipe self actuated
electro hydrolic digital valve. Valve tipe ini ringan perawatannya
karena tidak memerlukan actuator maupun daya,kecuali daya kecil untuk
menggerakkan solenoid valve. Daya penggerak diperoleh dari tekanan BBM
yang dialirkan. Spesifikasi umum digital valve :
1) Pengendalian : solenoid valve,buka dan tutup
2) Normally Close : bila tidak ada daya ke solenoid,valve menutup
3) Memiliki pengatur kecepatan buka dan tutup
4) Kedap BB
Solenoid Valve
Pengatur kecepatan menutup
Gambar 11, Salah Satu Model Digital Electrohydraulic Valve
Sumber : Pedomain Desain TAS-ITB
d. Grounding Monitor
Grounding monitor diperlukan untuk memperbaiki sistem keamanan operasi.
Grounding merupakan syarat (permissive) agar pengisian truk tangki dapat
dilaksanakan atau dilanjutkan. Grounding lug terbuat dari
logam,merupakan titik penyambungan ground dan titik monitoring ground
pada tangki. Grounding lug dipasang pada chassis truk tangki tanpa
isolasi ,diikat luar dengan mur dan baut sehingga tersambung secara
galvanis dengan chasis truk tangki. Bila ground connector disambungkan
ke grounding lug,truk tangki tersambung ke ground oleh grounding
cable.grounding lug juga menyambung grounding cable ke ground sense.
Selanjutnya ground detector mendeteksi hubungan ground sense dengan
ground dan mengirimkan sinyal ground ke batch controller. Bila ground
detector tidak menemukan ground pada ground sense,sinyal ground ke batch
controller diputus,sehingga pemompaan tidak dapat berlangsung.
Penggunaan grounding lug dan ground conector semacam ini menghindari
pemalsuan ground.
Pada Terminal Automation System (TAS) sistem ini menyediakan monitoring
dan reporting penyaluran bahan bakar minyak di depot-depot pertamina
secara efisien,aman dan terkendali dari semua aspek.
e. Metering System.
Metering system yang berkaitan dengan TAS adalah gabungan antara
meter,batch controller,digital valve,dan grounding monitor. Pada saluran
penyaluran masih ada beberapa peralatan yang diperlukan untuk menjamin
keamanan dan kelayakan operasi seperti strainer,air eliminator,flow
straighter,dsb. Namun yang disebut terakhir ini boleh tidak dikaitkan
dengan TAS. Secara diagram,metering system digambarkan sbb :
Gambar 12,diagram metering system TAS
Sumber : Pedoman desain TAS-ITB
Digital valve yang diberi regulator pilot dapat sekaligus berfungsi
sebagai back pressure regulator. Bila tekanan pompa perubahannya terlalu
besar,back pressure regulator diperlukan untuk menjaga ketelitian
pengukuran. Bila tekanan pompa dapat dipelihara, maka back pressure
regulator tidak diperlukan. Metering system merupakan blok terpenting
dalam TAS sisi penyaluran. Metering system harus dirancang agar dapat
tetap bekerja dengan operasi local pada waktu TAS mengalami gangguan.
Ini dilakukan dengan memilih batch controller yang dapat dioperasikan
secara remote (tersambung ke TAS ) dan local.
4. Densitometer
Densitometer digunakan untuk mengukur density produk. Density produk digunakan untuk :
a. Perhitungan volume standar pada akutansi minyak
b. Pengawasan mutu produk
c. Menerbitkan alarm bila produk yang sedang disalurkan atau diterima keluar dari wilayah density yang semestinya.
Densitometer adalah istilah untuk instrument yang mengukur density di
jalur pipa secara otomatis dan terus-menerus. Densitometer dikenal
sebagai hydrometer. Terdapat dua tipe densitometer yang popular :
a. Densitometer nuklir. Mudah memasangnya ,cukup dilekatkan pada pipa.
Namun karena menggunakan radioaktif,kini pemakaiannya dibatasi.
b. Densitometer coriolis.densitometer coriolis dapt berupa instrument
yang memang dirancang hanya untuk mengukur density,atau berupa mass flow
meter.
a. Cara memasang coriolis densitometer di jalur pipa
Densitometer coriolis mengukur density dengan mengalirkan fluida pada
sepasang pipa bengkok yang digetarkan. Aliran fluida dalam pipa
menyebabkan perubahan fasa getaran antara dua pipa ini. Perubahan fasa
ini sebanding dengan density dan kecepatan alir. Bila luas penampang
pipa,kecepatan alir,dan density diketahui, maka kecepatan alir volume
dan masa dapat dihitung. Pipa coriolis tidak dapat dibuat besar,karena
akan digetarkan. Oleh karena itu densitometer coriolis harus dipasang
parallel dengan pipa . ukuran coriolis meter terbesar yang ada saat ini
adalah 4”. Untuk pengukuran density dapat dipilih yang terkecil
(1/2”,3/4”,atau 1”). Ada beberapa cara memasang densitometer pada jalur
pipa.
Bila pipa tidak memerlukan pinging (untuk pembersihan atau
pengukuran),maka densitometer dapat dipasang dengan dua cara berikut :
Gambar 13,pemasangan densitometer dengan nozzle
Sumber : Pedoman desain TAS=ITB
Densitometer dipasang pada pipa spool dengan nozzle yang dirancang
khusus seperti gambar diatas. Ukuran pipe spool sebaiknya sama besar
dengan jalur pipa.
Gambar 14, pemasangan densitometer dengan office plate
Sumber : Pedoman Desain TAS-ITB
Atau dengan memasang office plate sebagai pembangkit beda tekanan,
agar sebagian BBM mengalir melalui densitometer seperti gambar di atas.
Bila pipa akan sesekali mengalami pinging ,misalnya pada jalur
penerimaan melalui pipa, maka tapping pada pipa tidak boleh menganggu
bagian dalam pipa. Dalam hal ini maka beda tekanan antara inlet dan
outlet densitometer hampir tidak ada,sehingga BBM tak akan mengalir
dengan kecepatan memadai melalui densitometer. Maka perlu dipasang pompa
pengalir seperti gambar dibawah ini :
Gambar 15,Densitometer dengan penambahan pompa
Sumber : Pedoman Desain TAS-ITB
b. Letak densitometer
1) Densitometer untuk perhitungan penyaluran dan penerimaan sebaiknya dipasang dekat dengan flowmeter.
2) Densitometer untuk mengawasi mutu produk harus dipasang sedekat
mungkin dengan sumber produk. Untuk penerimaan laut,maka densitometer
dipasang di outlet pompa.
3) Untuk mendeteksi kedatangan interface pada jalur pipa,densitometer dipasang beberapa kilometer dari titik penerimaan.
5. Pomp Sequencer.
Pump sequencer merupakan pengontrol penyalaan pompa yang akan bekerja dengan prinsip :
a. Mempertahankan flowrate pada daerah kerja flow meter diperlukan umpan balik flow rate dari semua meter untuk pump sequencer.
b. Menyalakan pompa dengan jumlah sesuai permintaan dari batch
controller. Permintaan penyalaan pompa (pump demand) dari masing=masing
batch controller diteruskan ke pump sequencer,sehingga dapat dihitung
flow rate yang diperlukan untuk menentukan jumlah pompa yang aktif
c. Mengatur running hours setiap pompa untuk masing-masing produk.
Setiap produk memiliki pompa utama yaitu,pompa yang akan dinyalakan jika
minimum terdapat permintaan dari satu buah batch controller. Pump
sequencer akan menggilir pompa utama dengan pompa lainnya setiap 24 jam
Gambar 16,Alur kerja dari pump sequncer
Sumber :pedoman desain TAS=ITB
6. Peralatan Jaringan
a. Switch
Switch atau biasa disebut network switch adalah peralatan jaringan yang
menjembetani beberapa segmen jaringan. Peralatan ini dapat mengenali
alamat Ethernet yang dituju. Terdapat pilihan jumlah port,seperti
8,16,24,dan48 port
Gambar 17,Switch Jaringan
Sumber : Pedoman Desain TAS-ITB
b. Serial To Ethernet Server
Serial to Ethernet server adalah perangkat komunikasi yang dapat
mengubah data komunikasi serial ke dalam data komunikasi Ethernet dan
sebaliknya. Disebut sebagai server karena satu buah port Ethernet dapat
dibagi menjadi banyak port serial dengan address masing-masing.
Perangkat ini digunakan untuk mengumpulkan banyak jalur komunikasi
serial menjadi satu jalur Ethernet sehingga memudahkan pengendalian
komunikasi.
Gambar 18, Serial To Ethernet Server
Sumber : Pedoman Desain TAS-ITB
c. Media Konverter
Media converter adalah nama generik untuk pengubah media
komunikasi,misalnya mengubah dari sinyal elektronik ke sinyal fiber
optic dan sebaliknya. Alat ini hanya mengubah jenis sinyal secara
fisik,tanpa operasi jaringan apapun.
Gambar 19, Media Konverter
Sumber : Pedoman Desain TAS-ITB
d. Kabel Data
Kabel data yang digunakan adalah jenis kabel twisted pair yang biasanya
berukuran 26 AWG hingga 22 AWG. Pada kabel data jenis ini dikenal
tipe-tipe berikut :
1) UTP : Unishielded Twisted Pair
2) STP : Shieldel Twisted Pair
3) ScTP : Screened Twisted Pair
4) FTP : Foil Twisted Pair
Kabel UTP dan STP cukup popular dan banyak digunakan. Kabel-kabel
twisted pair dibedakan dalam beberapa kategori sesuai standard
EIA/TIA-565-8. Kategori yang umum adalah cat 5e (bandwidth 100 MHz dan
data rate 1 Gbps) dan cat 6 (bandwith 200 MHz dan data rate 10 Gbps).
e. Fiber Optic
Fiber Optic adalah sejenis kabel yang terbuat dari bahan gelas atau
plastic yang digunakan untuk mentransmisikan sinyal dalam bentuk
cahaya,biasanya dalam spectrum tampak. Kelebihan transmisi menggunakan
fiber optic dibandingkan transmisi menggunakan kabel tembaga adalah :
1) Fiber optic tidak terganggu oleh interfrensi gelombang elektromagnetik
2) Kecepatan transfer data lebih tinggi
3) Sinyal cahaya lebih sedikit terdegradasi disbanding sinyal elektronik
4) Daya transmisi sinyal cahaya lebih kecil
Gambar 20, Fiber Optic
Sumber : Pedoman Desain TAS-ITB
Dikenal dua jenis fiber optic,yaitu multi-mode fiber optic dan
single-mode fiber optic. Multi-mode fiber optic memiliki ukuran inti
lebih besar dibandingkan single mode fiber optic. Jenis ini banyak
digunakan untuk jaringan (LAN). Cahaya dapat ditransmisikan dengan sudut
tertentu dan dipantulkan oleh dinding fiber optic untuk sampai ke
receiver. Single mode fiber optic memiliki ukuran inti sekitar 10
mikron. Kabel jenis ini digunakan untuk transmisi kecepatan tinggi yang
berjarak jauh. Sinyal cahaya ditransmisikan lurus sepanjang fiber optic
F. Komputer
Komputer yang diperlukan untuk implementasi TAS adalah :
1. Server,yang penggunaan utamanya sebagai data server,sehingga hardware untuk server harus mampu menangani database cukup besar
2. TAS PC,yang digunakan sebagai polling computer dan sebagai console.
Polling computer biasanya dioperasikan terus menerus dan menangani lalu
lintas komunikasi data cukup tinggi.
Spesifikasi umum server adalah server kelas industrial,prosessor minimum Xeon atau ekivalen dan harddisk minimum 80 GB
Spesifikasi umum TAS PC sebagai polling computer :Industrial
PC,prosessor minimum Pentium 4 atau ekivalen,memori minimum 512
kb,harddisk minimum 40 GB. Spesifikasi umum TAS PC sebagai console yaitu
branded PC,prosessor minimum Pentium 4 atau ekivalen ,memori minimum
512 kb,harddisk minimum 80 GB.
Dalam pengoperasiannya system TAS ini mengadopasi suatu client server
arsitektur yang terdiri dari dua yaitu database server dan polling flow
meter server. Sedangkan terminal client terdapat dalam proses
validasi,gatein,gate out,dan administrator jumlah terminal client dapat
disesuaikan dengan kebutuhan. Dalam pengoperasiannya sistem TAS
menggunakan IButton (Id Badge Mounting Option) sebagai identitas supir
mobil tangki dan bila dibandingkan dengan sistem Id Card dalam pemakaian
sehari-hari Ibutton terbukti sangat kuat dan handal
Gambar 21, Komponen Terminal Automation System (TAS)
Sumber : Website, Terminal Automation System;PT Globalindo Jaya Perdana
G. Perencanaan TAS
Perencanaan TAS dilaksanakan dengan mempertimbangkan jumlah peralatan
operasi yang ada,jenis operasi yang akan dilaksanakan oleh TAS,dan
prosedur operasi yang diterapkan. Berdasarkan jenis operasi yang akan
dilaksanakan,modul software yang sesuai yang dipilih. Terlepas dari
kapasitas penerimaan dan penyaluran,arsitektur sistem akan sama untuk
jenis operasi yang sama. Yang berbeda adalah jumlah peralatan lapangan
yang akan menangani masing-masing operasi.
a. Operasi Penerimaan Laut.
Gambar 22, prosedur Operasi Penerimaan Laut
Sumber : Pedoman Desain TAS-ITB
Pada penerimaan laut,dilakukan pemantauan receiving batch controller di
rumah pompa. Selain itu juga diperlukan integrasi dengan pengontrol MOV
dan pemantauan level tangki. Dengan demikian selain modul pemantau
penerimaan laut,sistem terintegrasi dengan pengontrol MOV melalui HMI
MOV,modul pemantau tangki,modul pengolahan data &pelaporan,dan modul
database. Fungsi utama modul pemantau penerimaan laut adalah :
a. Melakukan monitoring dan perekaman atas proses ship discharge.
b. Melakukan koordinasi dengan HMI MOV dan Modul Pemantau tangki untuk melakukan interlocking.
Modul ini diimplementasikan dengan modul penyaluran laut pada sebuah TAS PC di ruangan kontrol.
b. Otomatis Penyaluran Laut.
Sebaliknya,penyaluran laut (ship loading),dilakukan pemantauan delivery
batch controller di rumah pompa. Seperti penerimaan laut,modul ini perlu
diintegrasikan pulan dengan pengontrol MOV dan pemantauan level tangki.
Dengan demikian selain modul pemantau penyaluran lau,sistem integrasi
dengan pengontrol MOV melalu HMI MOV,modul pemantau tangki,modul
pengolahan data & pelaporan dan modul database. Fungsi utama modul
pemantau penyaluran laut adalah :
a. Melakukan monitoring dan perekaman atas proses ship loading
b. Melakukan koordinasi dengan HMI MOV dan modul pemantau tanki untuk melakukan interlocking.
modul ini diimpelmentasikan pada sebuah TAS PC di control room dengan modul penerimaan laut.
c. Otomatis penerimaan pipa.
Gambar 23, Prosedur Otomatis Penerimaan Pipa
Sumber : Pedoman Desain TAS-ITB
Pada otomasti penerimaan melalui jalur pipa dilakukan pemantauan
terhadap densitometer transmitter jauh,volume yang diterima dan
densitometer dekat. Pengontrol akan memperkirakan waktu untuk untuk
menutup atau membuka MOV tertentu dari pemantauan densitometer jauh.
Volume yang diterima dicatat melalui flow komputer dari turbin
flowmeter. Densitometer dekat digunakan sebagai pemicu untuk menutup
atau membuka MOV. Modul pemantau penerimaan pipa berfungsi untuk
mencatat data transaksi penerimaan jalur pipa dan melakukan koordinasi
dengan mengontrol MOV dan pemantau level tangki. Pengaturan dilakukan
oleh PLC MOV melalui HMI MOV. Modul ini diimplementasikan di server TAS.
d. Otomatis Penyaluran Pipa
Gambar 24, Operasi Penyaluran Pipa
Sumber : Pedoman Desain TAS-ITB
Pada otomatis penyaluran melalui pipa dilakukan pemantauan terhadap
volume yang disalurkan melalui turbin flow meter. Modul pemantau
penyaluran pipa berfungsi untuk mencatat data transaksi di jalur pipa
dan melakukan koordinasi dengan pengontrol MOV dan pemantau level
tangki. Pengaturan dilakukan oleh PLC MOV melalui HMI MOV. Seperti Modul
penerimaan pipa,modul ini diimplementasikan di server TAS.
e. Otomatis Penyaluran Darat
Pada penyaluran darat otomatis dilakukan dengan memantau batch
controller. Untuk itu diperlukan modul pemantau batch controller. Untuk
penyimpanan data dan pelaporan perlu diintegrasikan dengan modul
pengolahan data dan pelaporan serta modul database.
Gambar 25 , Operasi Penyaluran Darat
Sumber : Pedoman Desain TAS
Fungsi utama batch controller adalah :
a. Melakukan monitoring dan perekamana atas proses truck loading
b. Melakukan koordinasi dengan modul admnistrasi DO untuk melakukan
validasi atas kesahihan status truk transporter yang akan melakukan
truck loading
Modul pemantau batch controller dipersyaratkan mampu menangani data-data
temperatur (dari batch controller ),preset volume,transferred
volume,flowrate,filling point ID,Data transaksi,dan totalizer. Modul
pemantau batch controller direkomendasikan memiliki fungsi dan kemampuan
:
a. Melakukan validasi PIN
b. Melakukan monitoring atas proses truck loading,beserta alarm apabila
terjadi sesuatu di luar kondisi operasi yang telah ditetapkan.
c. Melayani sequenced batch
d. Melayani parallel batch
e. Apabila proses pengisian truck loading terganggu pada sisi filling
point sehingga terhenti (misalnya : karena pompa,dsb) maka modul
pemantau batch controller dapat mengantisipasi integritas data agar
pengisian dilanjutkan kembali di flling point yang sama ataupun di
flling point yang lainnya untuk produk BBM yang sejenis. Modul ini
diimpelementasikan di suatu PC tersendiri control room. Koordinasi
dengan modul admnistrasi DO dilakukan melalui pengolah data dan
pelaporan dan modul database yang tersimpan di server TAS.
H. Prinsip Kerja TAS
1. Proses gate in.
Proses gate ini merupakan proses sopir mobil tangki melakukan penempelan
IButton (ID Mobil Tangki) untuk mendapatkan print struk yang menentukan
filling poin /filling meter dimana tempat pengisian
(loading),selanjutnya mobil menuju ke tempat pengisian (loading).
2. Proses Pengisian (loading)
Proses pengisian merupakan proses sopir mobil tangki melakukan
penempelan IButton (ID mobil tangki) pada filling point / flow meter
sesuai dengan print struk yang didapatkan pada proses gate in
sebelumnya. Setelah proses pengisian selanjutnya menuju proses gate out.
3. Proses Gate Out
Proses gate out merupakan proses sopir mobil tangki kembali melakukan
penempelan IButton (ID mobil tangki) pada proses gate out ini akan
mendapatkan print surat jalan /bukti pengiriman BBM,selanjutnya mobil
tangki keluar dari depot menuju ketempat pelanggan/konsumen
Gambar 27,Prosedur Pengisian BBM ke truk tangki dengan sistem TAS
Sumber : Website, Terminal Automation System;PT Globalindo Jaya Perdana
I. Global Polling Flow Meter
Bisa memonitor sampai dengan 80 flow meter (sudah terpasang di depot
plumpang) dengan konektifitas yang stabil dan komptible dengan beberapa
merek flow meter.
IV.ALAT DAN PROSEDUR PENGGUNAAN ALAT
A. Alat dan Fungsinya
A
B
C
D
E
F G H I J
Keterangan :
a. Id Button berfungsi sebagai tempat menginput data sopir truk berserta trukya
b. Liter Display berfungsi untuk menampilkan jumlah liter yang dikeluarkan
c. Preset berfungsi menampilkan rata-rata flowrate bahan bakar yang dikeluarkan
d. Display Flowrate berfungsi untuk menampilkan laju aliran fluida bahan bakar
e. Volume Total berfungsi untuk menampilkan jumlah total liter yang dikeluarkan.
f. Reset berfungsi untuk mengembalikkan angka menjadi nol
g. Preset
h. Stop/Run berfungsi untuk menjalankan /memberhentikan TAS
i. Kabel penyentrum berfungsi untuk mengalirkan arus listrik
j. Kopling (Bottom Loader) berfungsi untuk menyalurkan bahan bakar ke truk tangki
B. Prosedur Pengisian BBM Ke Truk Tangki
Cara pengisian bahan bakar ke truk tangki :
1. Matikan Hp/sesuatu yang dapat memicu api ataw dititpkan ke sekuriti
2. Setelah tiba di filling stasiun mesih mobil dimatikan
3. Ganjal ban mobil dengan menggunakan balok
4. Pastikan kerang yang sekitar tangki semua tertutup
5. Buka main hole yang terletak di atas tangki
6. Pasang botto loader (kopling) dan kabel arder
7. Pasang id-button
8. Tekan tombol preset untk mengembalikka pengisian brikutnya pada posisi nol
9. Tekan tombol preset dan run/start untuk menjalankan pengisian
10. Bila pengisian telah selesai maka lepaskan kabel arder dan bottom loading (kopling) dan tutup main hole..
V.ANALISA DATA DAN PEMBAHASAN
A. Analisa Data
• Tanggal : 1 Juli 2010
No Nomor Plat Kapasitas (L) Kec.Aliran (L/Min) Jenis Bahan Bakar
1 KT 8532 20.000 Premium
2 KT 8710 AL 20.000 432-435 Solar
3. KT 8687 AN 20.000 414 Solar
4 KT 8774 KC 20.000 582 Solar
5 KT 8809 AN 15.000 613 Solar
6 KT 8870 AN 12.000 581 Solar
7 DA 9432 P 10.000 782 Premium
Sumber : Depot BBM Pertamina UPMS VI Balikpapan
• Hari/Tanggal : Rabu/7 Juli 2010
No Nomor Plat Kapasitas (L) LajuAliran (L/Min) JenisBahan Bakar
1 DA 9275 PA 10.000 206,311,114 Premium
2 KT 8774 KC 20.000 350-360 Solar
3 KT 8926 AP 20.000 455-456 Solar
4 KT 8472 MD 20.000 704-712 Solar
5 DA 9432 PA 10.000 755,775,795 Premium
6 KT 8586 BP 20.000 391-400 Solar
7 KT 8863 MF 16.000 472-477 Solar
8 KT 8757 AO 20.000 922-930,738-743 Avtur
9 KT 8809 AW 15.000 575-579 Solar
10 KT 8991 AP 16.000 787,792,773 Premium
11 KT 8532 AW 16.000 732-737 Avtur
12 KT 8854 BW 20.000 579-582 Solar
13 KT 8813 BP 20.000 438 Solar
14 KT 8543 MF 16.000 291-295 Solar
15 KT 8808 MA 20.000 438-440 Solar
16 KT 8993 AC 20.000 553-555 Solar
17 KT 8647 AM 12.000 417-423 Solar
18 KT 8532 AO 10.000 460 Solar
19 KT 8812 AL 20.000 662 Avtur
20 KT 8831 AM 10.000 425 Solar
21 KT 8504 AZ 8.000 465 Pertamax
22 KT 8658 BK 10.000 684 Premium
23 KT 8870 AP 10.000 460 Solar
24 KT 8517 AL 10.000 613 Solar
25 KT 8943 AN 10.000 573 Solar
26 KT 8981 AW 10.000 790 Avtur
27 KT 8681 K 10.000 600 Solar
28 KT 8643 AI 10.000 573 Solar
29 KT 8657 AO 10.000 443 Premium
30 KT 9273 PA 10.000 604 Premium
31 KT 8560 KC 5.000 512 Solar
32 KT 8633 AL 10.000 441 Solar
33 KT 8844 BO 10.000 487 Solar
34 KT 8656 BP 10.000 673 Premium
35 DA 9274 PA 10.000 455 Solar
36 KT 8981 AM 10.000 455 Solar
Sumber : Depot BBM Pertamina UPMS VI -Balikpapan
B. Pembahasan
1. Pembahasan Umum
Dari data yang kami peroleh menujukkan bahwa pada bahan bakar premium
memiliki selisih flowrate (aliran fluida) yang agak tidak teratur
ketimbang solar,pertamax,avtur,dan lain-lain.misalnya pada pengisian
premium pada mobil tangki dilihat pada display TAS maka akan menujukkan
angka yg tidak teratur seperti 778,798,788 ini sungguh berbeda dengan
bahan bakar yang lain. Bahan bakar lain seperti avtur,pertamax,solar
bila diperhatikan pada layar flowratenya memiliki selisih yang teratur
seperti yang terlihat pada table data. Adapun rata-rata flowrate bahan
bakar berdasarkan data kami yang kami peroleh sebagai sample yaitu :
a. Solar : Jumlah Flowrate solar/ jumlah data yang diperoleh
1. 20053/42 = 10516 L/menit
b. Premium : Jumlah Flowrate Premium / Jumlah data yang diperoleh
1. 10177 / 16 = 636,025 L/menit
c. Avtur : Jumlah Flowrate Avtur / jumlah data yang diperoleh
1. 13740 / 17 =808,235 L/menit
d. Pertamax : Jumlah Flowrate Pertamax/Jumlah data yang diperoleh
1. 5849 / 15 = 389,9333 L/menit
2. Pembahasan khusus
Grafik Flowrate Solar Vs Premium
Grafik Flowrate Solar Vs Avtur
Grafik Flowrate Avtur Vs Pertamax
Grafik flowrate Solar Vs Pertamax
Grafik Flowrate Premium Vs Avtur
Grafik Flowrate Premium Vs Pertamax
VI.PENUTUP
A. Kesimpulan :
1. Sistem kontrol adalah sekumpulan komponen yang bekerja dibawah pengarahan kecerdasan mesin.
2. Sistem kontrol terbagi dua bagian yaitu :
a. Sistem kontrol loop terbuka
b. Sistem kontrol loop tertutup
3. Terminal Automation System (TAS) merupakan sistem kontrol pengisian BBM ke tangki timbun atau truk tangki.
Komponen TAS terdiri dari :’
a. Automation Terminal Gauge (ATG)
b. Motor Operated Valve (MOV)
c. Metering System
d. Densitometer
e. Pump Sequencer
f. Peralatan Jaringan
g. Komputer
4. Proses Pengisian TAS ada 3 tahap yaiut proses gate in,proses loading,proses gate out.
B. Saran :
Pertamina Depot BBM UPMS IV Makassar : tetap dijaga kebersihan dan semakin innovative dalam melayani pelanggan (konsumen).
DAFTAR PUSTAKA
1. Anonim,2007,Pedoman Desain Terminal Automation System; Pusat Teknlogi Instrumentasi & otomatisi;ITB
2. Pedoman Organisasi Pertamina Unit Pemasaran VI Balikpapan;2004
Electronic Book;
3. Perkenalan Dengan Sistem Kontrol
4. Filosofi Dasar Sistem Kontrol
5. Situs
http://www.lintasberita.com/go/764157: Terminal Automation System;PT Globalindo Jaya Perdana;2010
DOKMENTASI DAN LAMPIRAN
KERJA PRAKTEK
PERTAMINA DEPOT BBM UPMS VI BALIKPAPAN – KALTIM
Gambar 29 Rumah Pompa Depot Pertamina UPMS VI Balikpapan
Sumber : Scan Foto Pertamina Depot BBM UPMS VI Balikpapan (2010)
Gambar 30 Pompa Terminal Automation System (TAS)
Gambar 31Pengisian Solar Ke Truk Tangki
Sumber : Foto Scan Depot BBM Pertamina UPMS IV Makassar (2010)
Gambar 33 Saklar Pembagi Terminal Automation System (TAS)
Sumber :Foto Scan Depot BBM Pertamina UPMS VI Balikpapan (2010)
Gambar 36 , semburan Foam yang keluar dari Foam Chamber pada tekanan 5 Kpa
Sumber : Foto Scan Depot BBM Pertamina UPMS IV Makassar (2010)
LAPORAN KERJA PRAKTEK Baru
disusun oleh:
A.Adiasfar Lolo, ST (D 211 05 096)
A.Firmansyah, ST (D 211 05 066)
JURUSAN MESIN FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS HASANUDDIN
MAKASSAR
2011